» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Ipari

Petani Melon Klotok Menggapai Sejengkal Asa di Tengah Covid-19
07 April 2020 | Ipari | Dibaca 826 kali
MELON: Seorang petani di Desa Klotok melakukan penyemprotan, Minggu (05/04/2020) pagi. Foto: SRIPARI.COM/M ZAINUDDIN
Ratusan petani melon di Desa Klotok dan Desa Magersari Kecamatan Plumpang dihantui penjualan hasi panen di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

sripari.com | tuban-Bukan tanpa alasan. Mengingat dari paparan ratusan hektar hamparan tanaman melon di Desa Klotok saat ini atau di tengah pandemi Covid-19, hampir tidak ada kendala. Baik dari serangan hama maupun penyakit terhadap tanaman melon.

As'ad, salah satu petani melon di Desa Klotok, mengatakan jika kondisi tersebut tetap stabil maka tanaman melon sudah bisa dipanen secara masaal atau panen raya pertengahan bukan ramadhan yang akan datang.

"Kalau melihat paparan tanaman sekarang ini cukup normal dan hasilnya bisa maksimal ketika panen nanti," tutur As'ad saat mengajak pewarta sripari.com mengitari lahan melon miliknya, Minggu (05/04/2020) pagi.

Dia mengatakan, di tengah pandemi virus corona dirinya dan petani lain tetap bersemangat merawat lahan tanaman melon seperti penyemprotan, pemberian obat-obatan, menyiangi rumput hingga pekerjaan normatif lainnya.

Meski demikian, As'ad tak menampik jika saat ini para petani sedang dihantui penjualan hasil panen yang tidak maksimal karena Jakarta yang selama ini menjadi pasar terbesar melon Desa Klotok sedang melakukaan isolasi gudang. Kebjakan ini berimbas pembatasan pembelian.

Selain Jakarta, sejumlah kota lain seperti Surabaya dan Semarang serta daerah di luar Jawa juga menjadi sasaran penjualan buah melon dari Desa Klotok.

"Dari hasil komunikasi dengan pelaku pasar di Jakarta mereka memastikan akan melakukan pembatasan pembelian melon 70 sampai 80 persen. Begitu pula dengaan pelaku pasar di daerah lain. Kita hanya bisa pasrah," ungkap As'ad disamping peani melon lainnnya saat rehat melakukan penyemprotan.

Dia menjelaskan, tanaman melon bisa dipanen saat umur 65-70 hari. As'ad memperkirakan tanaman melon akan mengalami panen raya mulai medio ramadhan sampai Idul Fitri yang akan datang. Biaya produksi untk 1 hektar lahan tanaman melon bisa tembus Rp 100 juta.

"Biaya itu mulai tenaga kerja, bibit, pupuk, obat-obat-obatan dan perawatan lain sampai panen. Kita berrharap ada solusi dari pemerintah," tandas As'ad.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tuban Agus wijaya mengaku hingga sejauh ini belum menerima laporan dari petani melon terkait masalah tersebut. Namun demikian pihaknya sudah menyiapkan skema guna mengatasinya. Salah satunya memperketat keluar masuknya barang.

"Kita akan memperketat dengan penyemprotan. Kemudian pemeriksaan keluar masuk barang juga akan lebih ketat," kata Agus. []


Reporter: M Zainuddin
Editor: As ad An-Nawawi