» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Tuban Barometer

Potret: Kehidupan Ranjang Para Perempuan yang Jodohnya Tamat di Pengadilan (1)
31 Maret 2017 | Tuban Barometer | Dibaca 12456 kali
Berhubungan intim dengan pasangan lebih dari kenikmatan di ranjang. Seks yang luar biasa dimulai dari adanya rasa cinta, dicintai dan saling menginginkan. Lantas bagaimana kehidupan ranjang para janda di Tuban setelah jodohnya berakhir di Pengadilan Agama (PA)?

SRIPARI.COM | TUBAN-Menikah sekali seumur hidup adalah cita-cita pasangan suami istri di  muka bumi ini. Namun tidak selamanya harapan itu terwujud menjadi kenyataan. Terbukti beberapa pasangan pisah jalan dan mengambil keputusan bercerai. Sebuah keputusan yang kontradiktif dengan ungkapan banyak orang yang merasa lebih berharga setelah berhubungan seks dengan pasangannya.

Himpitan sosial menjadi salah satu hal yang harus diterima dan dijalani paska perceraian, kendati banyak kesulitan lain siap menghadang di depan mata. Tidak ada ada teman berbagi tawa dan setiap saat  merasa sendiri dalam kesedihan. Apalagi bagi wanita yang kemudian berstatus janda karena jodohnya tamat di ruang sidang PA. Menjadi seorang janda cerai jauh lebih berat ketimbang janda yang ditinggal mati semuanya.

Memasak untuk diri sendiri dan makan malam sendirian adalah jamak bagi seorang wanita yang sudah berstatus janda. Tetapi tidur sendirian di atas ranjang yang dingin tentu bukan hal yang mudah. Mengingat salah satu aktivitas pasangan suami istri yang paling ditunggu adalah bercinta di atas ranjang. Selain menyenangkan, berhubungan intim yang baik dengan pasangan juga membawa banyak manfaat bagi kesehatan. Bahkan sebagian meyakini seks adalah obat alami.

Karena jodohnya telah tamat, tentu kehidupan bercinta di atas ranjang bagi wanita yang telah berubah status menjadi janda, sekarang tinggal menyisakan dongeng. Lantas bagaimana para janda di Kota Tuban ini mengatasi kebutuhan ranjangnya. Meski risiko itu sudah siap dihadapi sebelum pisah jalan dengan cara bercerai, ternyata bukan perkara mudah bagi wanita yang baru menyandang status sebagai janda.

Punya Solusi Namun Enggan Berbagi

Namun, Ria (bukan nama sebenarnya), salah satu di antara ribuan istri yang jodohnya tamat di PA Jalan Sunan Kalijogo Kota Tuban, mengaku sudah siap menjadi janda. Meski sejatinya dia terpaksa menggugat cerai suaminya karena selingkuh. Yang menyakitkan, suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri.

 “Sekarang saya merasa bebas, tidak merasa tertekan lagi setelah cerai,” ungkap janda muda beranak satu ini kepada pewarta sripari.com sesaat setelah mengambil akta cerai di gedung PA Tuban, belum lama.  

Meski begitu, pemilik mata menyelidik ini, mengaku menyandang status sebagai janda tak jarang mendapat stigma negatif. Namun Ria mengaku sudah siap dengan risiko tersebut. Rasanya, justru sekarang Ria merasa lebih bahagia setelah resmi bercerai dibanding masih hidup serumah bersama mantan suaminya.

Ketika ditanya bagaiamana dirinya memenuhi kehidupan ranjang, perempuan berkulit setengah gelap ini hanya melengos sembari tersenyum getir. Berbicara soal kehidupan di atas ranjang tampaknya masih menjadi hal tabu bagi dia. Namun dia buru-buru mengatakan persoalan itu sudah biasa diatasi. Dia mengaku punya solusi meski enggan berbagi.

"Saru (tidak pantas) diomongkan. Tapi yang jelas saya akan kembali hidup serumah dengan orang tua di Kecamatan Plumpang. Di situ ada banyak saudara. Saya punya kesibukan kerja. Pulang kerja ketemu anak dan keluarga besar," tuturnya lirih, nyaris tak terdengar pertanda dia tak yakin dengan kata-katanya sendiri.

 Sebagai informasi, di Kabupaten Tuban putusnya tali pernikahan didominasi oleh gugatan perempuan. Meski mayoritas mereka adalah wanita biasa yang tergolong tidak mandiri secara ekonomi. Sepanjang tahun 2016 lalu, ada 1.522 istri di Tuban resmi menceraikan para suaminya.

Jika menilik data tersebut rata-rata per bulan ada 126 janda baru di Kabupaten Tuban. Faktor yang seharusnya bisa dikompromikan seperti himpitan perut yang lapar, perselingkuhan, tak cocok dengan mertua, gaya hidup hingga problem impotensi alat reproduksi, menjadi latar belakang para istri menggugat cerai suaminya. []

ARIF AHMAD AKBAR