» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Tuban Barometer

8 Rumah Warga Kebomlati Tinggal Menunggu Waktu Masuk Pusaran Bengawan Solo
13 Maret 2017 | Tuban Barometer | Dibaca 1483 kali
WAS-WAS: Inilah jalan Dusun Kemlaten menuju Dusun Ngablak yang nyaris putus dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, Senin (13/03/2017) siang. Foto: SRIPARI.COM/ARIF AHMAD AKBAR
Banjir luapan Bengawan Solo akhir tahun lalu menyisakan getir nasib warga Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang. Selain gagal panen, kini delapan rumah warga tinggal menunggu waktu ambles dan hanyut terbawa arus.

SRIPARI.COM | TUBAN-Was-was kini menghantui delapan kepala keluarga (KK) yang sekarang rumahnya tinggal berjarak dua meter saja dari bibir Bengawan Solo. Sekali saja sungai terpanjang di Pulau Jawa ini meluap seperti Desember 2016 lalu, hampir bisa dipastikan rumah mereka masuk pusaran air.

Ke delapan rumah warga yang tinggal menunggu waktu ambles dan hilang ditelan Bengawan Solo itu, berada di RT 03 RW 02 Dusun Kemlaten, Desa Kebomlati. Warga terpaksa memilih bertahan di kawasan berbahaya ini karena hanya itulah satu-satunya tanah pemukiman yang mereka punya.

Tidak cuma itu. Selain mengancam delapan rumah warga, longsor tebing Bengawan Solo juga mengakibatkan badan jalan lingkungan yang menghubungkan Dusun Kemlaten dengan Dusun Ngablak sudah nyaris putus. Hanya kendaraan roda dua saja yang bisa melintas. Sejumlah warga menuturkan, setiap paska banjir tanah perumahan yang mereka huni terus berkurang karena dicaplok Bengawan Solo.    

"Setiap Bengawan Solo selalu terjadi longsor. Paling parah Agustus 2016 lalu. Pihak desa sudah menanggulangi dengan melakukan pengurukan. Namun longsor lagi saat banjir akhir tahun kemarin," terang Zuliatin (35) warga setempat, Senin (13/03/2016) siang.

Kepada Pemkab Tuban, dia bersama warga lainnya berharap bantuan agar dibuatkan bangunan yang berfungsi menahan longsor seperti tembok penahan tanah, talud atau bronjong.

Bangunan tersebut dapat berfungsi menahan lapisan tanah agar longsor tidak semakin parah. Mengingat wilayah setempat merupakan desa yang dilingkari aliran sungai Bengawan Solo.

Mengantisipasi bahaya, sejak seminggu lalu warga sudah melakukan penanaman pohon jenis waru di bekas longsoran. Pohon ini telah lama dikenal sebagai peneduh tepi jalan atau tepi sungai dan pematang serta pantai, untuk menangkal pengikisan tanah.

Menanggapi hal itu Kepala Desa Kebomlati, Muntholip, melalui Kepala Dusun Kemlaten, Suyono, mengaku tidak dapat berbuat banyak. Sebab tanah kas desa yang ada, seluruhnya sudah habis digunakan untuk merelokasi warga setempat pada beberapa tahun sebelumnya.

Suyono menjelaskan, sejak tahun 2008 hingga awal 2016 lalu pihaknya desa sudah merelokasi 78 KK untuk menempati tanah kas desa. Hal itu dilakukan sebagai jalan tengah karena ke-78 rumah warga sudah tidak dapat ditempati lantaran tergerus longsor setiap tahunnya.

Melalui kegiatan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) di Pendopo Kecamatan Plumpang awal tahun 2017 lalu, pihaknya sudah mengajukan agar Pemkab Tuban segera melakukan  penanganan seperti membuat tanggul atau tembok pembatas.

"Saat Pak Bupati Tuban (Fathul Huda) melakukan peninjauan ke sini setahun lalu sudah pernah kami usulkan. Tapi sampai sekarang belum ada penanganan sama sekali," kata Suyono getir.

Sementara Camat Plumpang, Solahudin, ketika dihubungi melalui ponselnya tidak diangkat meski aktif.  Saat dikonfirmasi melalui sms dan WhatsApp juga tak direspon. []

AHMAD AKA