» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Noktah

Sungai itu (Bukan) Kenangan
04 Desember 2016 | Noktah | Dibaca 1978 kali
DIDIK WAHYUDI : Pegiat budaya dan pemerhati kebijakan publik tinggal di Bojonegoro. Foto: DOKUMENTASI PRIBADI
Alam yang masih ramah, memberi banyak saat kita belum mengusik dan merusaknya. Tapi kini kondisinya bikin kenangan susah dikenang.

Catatan: Didik Wahyudi

Seingatku dalam pelajaran sejarah atau apa, saya lupa, bahwa dulu manusia purba mencari tempat tinggal di sekitar air dan banyak hewan buruan. Baik di tepi sungai, danau atau mata air.

Lalu, kebiasaan tersebut berlanjut, sebab air adalah kebutuhan teramat penting untuk kehidupan. Berlanjut hingga manusia modern, bahwa bertempat tinggal dekat dengan air itu memudahkan untuk memenuhi segala keperluan.

Maka bisa kita saksikan banyak deret rumah yang dekat dengan bantaran sungai dan sumber air mata lainnya. Rumah masa kecil saya pun dekat sungai. Hanya membutuhkan waktu sembilan menitan untuk sampai ke sungai. Jaraknya kira-kira tiga ratusan meter, ndak masuk bantaran tapi dekat dengan sungai.

Saya masih bisa menyaksikan bahwa sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat desa saat itu. Mulai kebutuhan mencuci, mandi, ngising kata lain di desa saya buang air besar, dan ambil air bersih untuk memasak juga di sungai.

Tapi biasanya kalau ambil air bersih untuk memasak masyarakat biasanya bikin belik tepi sungai. Semacam sumur kecil atau lubang di tanah tepi sungai. Gunanya untuk menampung air bersih yang sumber airnya berasal dari sungai. Air belik tentu khusus untuk minum dan memasak bukan untuk mandi ciblon.

Keberadaan sungai menjadi begitu vital saat warga belum banyak punya sumur pun PDAM. Pun warga yang sudah punya sumur masih mencuci, mandi dan ngising di sungai. Sumur hanya untuk minum saja. Katanya sih, ngising di sungai itu lebih plong.

Tapi karena sungainya masih bersih dan banyak ikan maka yang kintir itu baru beberapa meter sudah dilahap ikan-ikan itu. Pathing kemruyuk, telap-telep berebut. Saat itu biasa banget kita dapat ikan bader, lele lokal, wader pari dan kutuk. Sebab alam masih lestari serta belum ada obat-obatan untuk menangkap ikan.

Hanya berbekal pancing, jaring dan jolo ikan mudah kita dapatkan.Bahkan dengan tangan kosong bisa dapatkan udang dan ikan dengan mudah. Begitulah. Alam yang masih ramah, memberi banyak saat kita belum mengusik dan merusaknya. Itu kenangan indah saat sungai masih terjaga dengan baik. Tapi kini kondisinya bikin kenangan susah dikenang.

Lalu saat tinggal di Bojonegoro saya mengenal sungai Bengawan Solo yang besar dan indah juga. Hampir sama kebiasaan warga bantaran sungai Bengawan Solo dengan warga desa asal saya lahir. Ya nelek, mandi dan nyuci di Bengawan Solo masih banyak ditemui, serta ikannya masih banyak.

Tapi, menurut teman saya yang hobi mancing sejak kecil dan kini usianya sudah sepuh, banyak beberapa jenis ikan yang mulai jarang ditemui atau bisa jadi punah. Dulu banyak jenis ikan Bengawan Solo dengan penyebutan nama yang ndakik-ndakik. Dan, hanya orang-orang tertentu yang hapal bentuk serta namanya. Pokoknya banyaklah, saya gak paham soalnya.

Agak lumayan nasib Bengawan Solo dibanding sungai di belakang rumah saya dulu yang memprihatinkan. Tapi, Bengawan Solo juga lumayan agak mengancam saat musim penghujan seperti ini. Menghadiahi banjir tiap tahun sekali, yang bisa merendam ribuan rumah tempat tinggal di Bojonegoro. Jika makin tinggi air makin banyak warga yang mengungsi. Tapi warga bantaran sungai sudah tak kaget jika banjir datang.

Mereka sudah terbiasa. Banjir itu seperti tamu yang datang ke rumah lalu lumayan ngrepoti. Warga bantaran sudah terbiasa hidup dengan banjir. Karena menyesuaikan diri dengan banjir, maka tak heran rumah-rumah sepanjang bantaran sungai pondasinya tinggi-tinggi. Jalan desa pun gang jauh tenggelam dibanding pondasi rumah yang berkejaran dengan tinggi air.

Maka, warga bantaran sungai ndak usah dikasih motivasi "lampaui batas maksimalmu". Sebab sudah sering menghadapi kenyataan tiap tahun menyaksikan air bengawan, sungai yang selalui "melampaui batas maksimal".  []


SILAKAN BERBAGI Rubrik "Noktah" mengupas pelbagai problem kemasyarakatan dari sudut pandang kemanusiaan (humaniora). Rubrik ini terbuka untuk umum. Silakan berbagi tulisan ke redaksi.sripari@gmail.com dengan subyek ”noktah”. Tetap berpikir merdeka!