» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Kisah

Kalisat, A Place To Remember (1)
19 September 2016 | Kisah | Dibaca 2136 kali

Kalisat memang bukan sebaik-baik tempat untuk berwisata. Di sini tidak ada janji keindahan seperti Pantai Papuma Jember. Apa yang tampak foto, seperti itulah adanya. Jangan berharap menjadi turis di tanah Kalisat. Tapi jika sekali saja kita mau meluaskan definisi tentang apa itu wisata, maka negeri kecil semacam Kalisat akan tampak indah lagi berseri-seri.


  • RZ HAKIM

HARI sudah sore ketika saya tiba di pelataran Stasiun Kalisat. Tak jauh di depan papan nama ada satu tiang bendera lengkap dengan merah putih yang gagah berkibar. Rasanya janggal melihat bendera berkibar selain di bulan Agustus. Tapi saya mafhum, ini stasiun kecil yang berbeda. 

Diceritakan oleh Ady Setyawan dan Marjolein Van Pagee, pada 19 September 2013 mereka mengunjungi kediaman Joop Hueting di sebuah apartemen di Castricum, Belanda bagian utara. Tuan Hueting, ia adalah tokoh dibalik terkuaknya kekejaman Belanda di Indonesia. Saya tercekat oleh pemaparan Tuan Hueting tentang apa yang pernah terjadi di Stasiun Kalisat. 

".... Sebuah stasiun kecil di Kalisat, mereka menyiksa seorang pejuang kemerdekaan yang gigih, sangat gigih. Mereka menggantungnya dalam keadaan terbalik, kaki diatas dan kepala dibawah, disiksa sedemikian rupa, lalu dijatuhkan beberapa kali dari ketinggian hingga kepalanya pecah."

Berikut saya nukilkan catatan Ady Setyawan bersama Marjolein Ketika Mewawancarai Tuan Hueting :

No Sir...Im not historian.....Im a treasure hunter *sigh

Di akhir tahun 1960,tepatnya 17 januari 1969, beliau berbicara di media Belanda tentang kekejaman tentara Belanda terhadap penduduk Indonesia. Sebelum itu keadaan Belanda tenang tenang saja. Lalu meledaklah negeri itu. Media Belanda, Jerman hingga Amerika ingin mewawancarai Hueting. Dampaknya adalah semua veteran memburu Hueting. Keluarga hingga media yang mewawancarai Hueting menerima ancaman pembunuhan. Dari keributan inilah akhirnya muncul de Exessennota.

19 September 2013

Dari Rotterdam saya dan Marjolein Van Pagee menuju rumah Joop Hueting di sebuah apartemen. Disana kami disambut dengan ramah.

Apa kabarmu tuan? Kawan saya membuka pembicaraan, dan Hueting menjawab, "Tidak begitu baik, istriku baru saja meninggal, dia adalah orang terhebat dalam hidup saya." Dan kami dipersilahkan masuk.

"Kau... siapa namamu? Kau keturunan seorang freedom fighter juga kah?"

"Nama saya Ady Pak. Ya, Kakek saya dulu ikut dalam perang kemerdekaan." Marjo tidak ditanya karena sudah kenal.

"Apakah dia masih hidup?"

"Kakek saya sudah meninggal."

"Kau menang dalam perang itu, kami yang harus angkat kaki dan memang itulah yang seharusnya terjadi."

Tak lama kemudian Meneer Hueting berjalan, langkahnya sangat pelan. 

"Bantu aku mengambil beberapa barang, aku akan ceritakan beberapa hal padamu Nak."

Dan kami pun mengikutinya mengambil beberapa benda, diantaranya sepucuk pistol, sepotong lantai tegel, bayonet arisaka Jepang dan sebuah triplek bertuliskan 50 Th Indonesia Merdeka.

Dan mulailah beliau bercerita.

"Semua ini adalah barang kenanganku dengan leluhurmu. Akhir September 1947 adalah awal kedatangan saya ke Indonesia. Pertama kali saya ditugaskan adalah di Jawa Timur. Pangkat saya saat itu adalah first class soldier. Di tahun 1948 saya ikut menyerbu Jogja dalam gelombang pertama. Saya adalah pasukan STOOTTROEPEN bagian intelijen. Saya ingat ketika pertama kali masuk kota Jogja, ada sebuah poster yang sangat besar dipasang oleh para pejuang, poster itu bertuliskan WILHELMINA LONTE."

"Kawan-kawan prajurit saya menanggapi itu dengan sangat marah, tetapi saya hanya tertawa terbahak-bahak. Sempat-sempatnya mereka membuat poster ejekan seperti ini."

Kemudian beliau menyerahkan pistol itu ditangan saya. Saya tak mengenali jenisnya, pistol itu kecil, saya keluarkan magasen, mengokang untuk memastikan chamber kosong dan juga mencoba tuas penguncinya.

"Pistol ini dalam kondisi sangat bagus tuan."

"Ya, saya selalu merawatnya."

"Bagaimana anda mendapatkan pistol ini?"

"Jogjakarta, 1948, perang kota. Saat itu saya mendadak berhadapan dengan seorang anggota TNI. Masing masing dari kami saling menodongkan pistol, dan.... Kamu bisa melihat, siapa diantara kami yang lebih cepat menarik pelatuk. Dia gugur. Dia seorang Letnan. Namun bagaimana pun dia adalah prajurit dan saya juga prajurit. Tak ada pilihan lain, inilah dunia kami. Dia meninggal dengan terhormat."

"Bagaimana dengan pecahan lantai ini?"

Ketika saya menanyakan pecahan lantai tersebut, Tuan Hueting sejenak terdiam. Ada raut kesedihan yang muncul....

"Itu bukan hanya sekedar pecahan lantai. Itu adalah pecahan hati saya. Sebuah stasiun kecil di Kalisat, mereka menyiksa seorang pejuang kemerdekaan yang gigih, sangat gigih. Mereka menggantungnya dalam keadaan terbalik, kaki diatas dan kepala dibawah, disiksa sedemikian rupa, lalu dijatuhkan beberapa kali dari ketinggian hingga kepalanya pecah."

Dan kami melihat mata Tuan Hueting yang mulai berkaca-kaca.

"Aku berteriak-teriak, aku menangis memohon agar mereka berhenti melakukannya. Dan detik itu aku menyadari, bahwa leluhurmu berjuang untuk sebuah keinginan mulia. Nyawa sekalipun akan mereka korbankan untuk itu...KEMERDEKAAN..."

Inilah sebagian kecil dari hasil wawancara dengan Tuan Hueting, begitu banyak kisah yang cukup menyentuh yang beliau sampaikan pada kami, mulai kelucuan, tentang kengerian perang, tentang kemanusiaan.

"Terima kasih telah mengunjungiku. Puluhan tahun telah berlalu. Melihatmu dan berbicara denganmu sangat menyenangkan. Kau... Sungguh mengingatkanku pada mereka. Tinggimu, warna kulitmu, gaya bicaramu. Seandainya saja saya bertemu mereka di waktu yang tepat, tentu kita semua bisa menjadi sahabat."

Catatan itulah yang membawa saya kembali ke Kalisat, sebuah wilayah di Jember Utara. Kembali ke stasiun kecil dengan ketinggian +265 M di atas permukaan laut.

Jarak antara rumah saya dengan Stasiun Kalisat hanya setengah jam jika naik motor, itu juga jalannya nyantai. Tentu saya membonceng istri tercinta. Selain kami, masih ada rombongan kecil yang turut serta. Mereka adalah Korep, Buter, Watu dan Lading. Tak perlu heran dengan nama-nama unik itu. Begitulah jika pencinta alam, mereka akrab dipanggil dengan nama rimba. 

Belum sepuluh menit kami nongkrong di pelataran stasiun dekat tiang bendera, dari kejauhan sudah ada terlihat si Frans. Rupanya dia sedang asyik menikmati bakso. Sebelum Frans datang menghampiri kami, Ivan datang terlebih dahulu. Dua atau tiga menit sebelumnya saya memang meneleponnya, mengabarkan jika kami sedang ada di Stasiun Kalisat, dekat sekali dengan rumahnya. 

Frans dan Ivan, mereka sering menemani saya ketika jalan-jalan di Kalisat. 

"Kok sore Mas? Arep munggah Gumuk tah?"

Saya tersenyum mendengar pertanyaan Frans. Iya benar, warna langit mulai ranum ketika kami tiba di stasiun itu. Saya katakan pada Frans bahwa sebelumnya kami singgah dulu di kedai kopi Desa Gumuksari, dekat Stasiun Kotok. Di sana kami berjumpa dengan Har, sahabat yang paling gemar menemani saya mendaki Gumuk atau sekedar melakukan pengamatan capung.  []