» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Kisah

Kalisat, A Place To Remember (2-Akhir)
19 September 2016 | Kisah | Dibaca 1392 kali

Kenangan kami berceceran, kami butuh menciptakan kesan di tempat yang berbeda. Kadang destinasi adalah kata yang memenjara. Kami ingin bertamasya setiap hari. Di rumah pun kami berkelana, sebab kami tak kunjung bosan untuk menciptakan kebahagiaan. Everyday dan di mana saja. 


  • RZ HAKIM

Kepada Frans saya bercerita tentang apa yang sudah dipaparkan oleh Ady dan Marjolein. Tak dinyana, ternyata Frans antusias. Beberapa menit kemudian, ia sudah mengantarkan saya menuju rumah Keluarga Sutrisno. Frans memanggilnya Om Tris. Rumahnya tepat di seberang stasiun, hanya berjarak beberapa langkah saja. Di depan Om Tris, saya kembali menuturkan apa yang sebelumnya sudah saya ceritakan ke Frans. Dia manggut-manggut, tampak sekali jika Om Tris bersemangat mendengarnya. 

"Saya lahir tahun 1956 Mas, jadi saya tidak njamani peristiwa penyiksaan itu. Tapi menurut apa yang pernah saya dengar dari para sesepuh di daerah ini, apa yang diceritakan teman Anda --Ady dan Marjolein-- itu benar adanya. Sayang sekali teman Anda tidak menyertakan nama pejuang yang digantung dalam keadaan terbalik, kaki di atas kepala di bawah, lalu dijatuhkan hingga kepalanya pecah."

Dari Om Tris saya mendapatkan info keren. Rumah di samping kanan rumahnya (kini rumah itu tak terawat dan tak berpenghuni) adalah saksi bisu masa perang mempertahankan kemerdekaan. Disanalah ruang penyiksaan bagi para pejuang Indonesia. 

Om Tris mengetahui kisah rumah itu dari banyak orang, salah satunya adalah Pak Sukardi. 

"Tadinya Pak Sukardi itu guru biasa. Tapi kemudian beliau memilih menjadi tentara dan aktif berjuang mempertahankan kemerdekaan hingga 1949. Dia pernah berkata, sabben e dinnak kenengnah oreng e siksaSayang kini Pak Sukardi telah tiada. Di sini sulit mencari masyarakat yang berusia 70 tahun ke atas. Kalaulah ada, biasanya ceritanya tidak riil."

Meskipun saya belum menemukan dimana lokasi tiang pancang untuk menyiksa pejuang, seperti yang dikisahkan Joop Hueting, tapi saya senang ngobrol dengan Om Tris. Ia bahkan mempersilahkan saya untuk mengabadikan ruang-ruang di dalam rumah itu. Sayangnya, hari sudah menjelang maghrib. Lebih baik jika saya mengabadikannya di lain waktu. Sebelum undur diri, saya berjanji secepatnya kembali lagi ke Om Tris. Masih ada banyak hal yang butuh saya tanyakan. 

Saya dan rekan-rekan tidak langsung pulang melainkan masih singgah di rumah Ivan. Di sana saya banyak berbincang dengan Ibu Sulasmini yang tak lain adalah Ibu kandung Ivan. Kepada Ibu Sulasmini, saya banyak bertanya tentang sepak terjang Almarhum Bapak Oesman (suami beliau yang seorang Purnawirawan Angkatan Darat) di masa revolusi.

"Seandainya dulu di tahun 1947 Bapak tidak melarikan diri, tentu ia akan menjadi salah satu korban Tragedi Gerbong Maut. Pak Oesman lari ke Banyuwangi. Di sana dia turut berperan aktif membangun sebuah jembatan yang tak sempat selesai. Sampai kini kabarnya jembatan itu terbengkalai namun masih ada jejaknya."

Kemudian cerita pun mengalir. Ibu Sulasmini juga tak keberatan menunjukkan berkas-berkas suaminya. Saya bilang ke Ivan untuk menyimpan juga berkas-berkas itu secara digital. 

Kami tidak bisa berlama-lama lagi di rumah Keluarga Ibu Sulasmini. Har, rekan saya, ia menelepon untuk memastikan agar kami singgah di rumahnya. "Bojoku kadhung masak sego," begitu katanya. Kami segera berpamitan. 

Ternyata perjalanan dari sekitar Stasiun Kalisat menuju Sumber Jeruk (juga wilayah Kalisat) masih tertahan. Kami singgah di rumah Frans. Saya memang ada perlu, mau pinjam gitar untuk menciptakan lagu. Eh, ndilalah di rumah Frans kami diwajibkan untuk mimik teh botol. 

Akhirnya, sampai juga kami di rumah Har. 

Di sini kami kembali saling bercerita, saling menjahit kain perca sejarah yang berceceran, kembali bertemu kopi hingga perut terasa kembung, kadang terjebak membicarakan nostalgia usang, kadang hanya saling bercerita kebodohan-kebodohan ketika naik gunung atau kemping di hutan, dan tentu saja endingnya adalah masak di dapur.

Untuk bagian makan bersama-sama, kisahnya kita loncati saja ya, hehe.

Kalisat, hmmm... Entah kenapa saya selalu merasa bahagia jika singgah di wilayah ini.

Saya senang mengingat-ingat dongeng dari Bapak. Saat dia masih muda, di tahun-tahun pertama pernikahan Bapak dan Almarhummah Ibu, mereka merayakan gagasan kemandirian di sini. Punya rumah sendiri meskipun kontrak, berkebun di halaman belakang, memelihara ayam dan ikan, bertetangga, saling tolong menolong, merajut mimpi dan memelihara kuda. Ya, Bapak memelihara kuda! Wew, saya bangga menjadi putra seorang Koboi Nusantara. 

Sayang sekali, Ibu tidak betah tinggal di sana. Sepi. Kata Bapak, waktu itu Ibu sering menangis. Jadi, Bapak berinisiatif untuk memboyong Ibu di rumah Kreongan, rumah orang tua Bapak. Itu ketika mereka belum memiliki rumah sendiri di Patrang. Jadi, mereka tak sampai setahun tinggal di Sumber Jeruk, Kalisat. 

Heran, mereka hanya sebentar hidup di sana, tapi kenapa masih ada saja yang mampu mengingat Bapak dengan detail? Bagaimana dulu ia bersosialisasi? Tetangga Har, dia bahkan menuduh saya dilahirkan di Kalisat. Menurut apa yang saya dengar dari orang-orang terdekat, tentu itu tidak benar. Namun ia masih ngotot jika saya lahir di Kalisat. Katanya, dua hal yang dia ingat tentang keluarga kami, yaitu saya dan kuda. Manis sekali. Sayang itu tidak benar. Saya dilahirkan di Kreongan, di atas tanah milik KA.

"Om, ayo menggambar."

Ah, rupanya Catherine sudah ada di samping saya. Catherine, ia adalah putri Har. Nama lengkapnya Catherine Harum Senja Ramadhani, lahir pada 21 September 2008. Saya mengingatnya sebab turut menyumbang pembuatan nama, atas permintaan Har. 

Kami menggambar ramai-ramai. Si Lading, Buter dan Watu, mereka juga turut menggambar dengan crayon. Kalimat "Kangen Bunda Yati" itu saya yang menulis. Tak terencana, tiba-tiba saja nulisnya. Entahlah, padahal kami tidak pernah berjumpa. 

Catherine terlihat senang. Pada akhirnya kami terus menggambar, tak peduli apakah Catherine senang atau tidak. Satu jam kemudian, kami baru sadar jika Catherine sudah nyekukruk di sudut ruang, dia ketiduran, haha..

Seperti itulah Kalisat, selalu menerima kehadiran saya dengan hangat. 

Beberapa warga yang saya kenal, mereka sering terheran-heran dengan tingkah saya. Kadang saya datang untuk satu tujuan, mendaki Gumuk Marada. Di lain hari, saya melakukan pengamatan keanekaragaman hayati di titik-titik tertentu. Di kesempatan yang berbeda lagi, saya datang menjadi pendengar setia pada mereka yang sudi cangkrukan sambil menceritakan folklor yang tumbuh di sana. 

Syukurlah mereka mengerti, saya melakukan itu hanya untuk mengikuti kata hati. Sama sekali bukan menjadi bagian dari kucuran hibah atas nama ilmu pengetahuan dan semacamnya. Saya hanya ingin bahagia dan membahagiakan. 

Catherine dan teman-teman sebayanya, juga anak-anak saya nanti, mereka tentu butuh mengerti bagaimana wajah Kalisat di masa yang lalu. Mereka berhak tahu atas apa yang pernah terjadi di pelataran Stasiun Kalisat di masa revolusi. Dengan cara sesederhana ini, saya berharap kisah yang dituturkan Hueting, perjuangan yang dilakukan Pasukan Sroedji, pengorbanan logistik dari para petani, itu semua tak menjadi sia-sia. 

Melek sejarah melahirkan kecerdasan di bidang lingkungan, sosial, budaya, wisata dan kemanusiaan.

Kalisat: A Place to Remember

Jika harus membayangkan suatu tempat yang penuh kenangan, saya selalu mencoba untuk mencari pilihan lain selain gunung, hutan dan pantai. Jika harus kembali ke sebuah tempat, saya akan mencari alternatif lain selain pulau-pulau kecil baik yang pernah saya singgahi maupun yang masih dalam tahap mimpi. Jika harus mengajak istri tercinta ke sebuah tempat romantis, saya akan membelokkan kemudi ke arah yang tidak disangka-sangka. Itu lebih baik. Akan menjadi sempurna jika tanpa buku panduan. Masih ada banyak orang yang bisa dimintai tolong untuk kita bertanya tentang arah. Sosial skill, hanya itu yang kita butuhkan.

Kenangan kami berceceran, kami butuh menciptakan kesan di tempat yang berbeda. Kadang destinasi adalah kata yang memenjara. Kami ingin bertamasya setiap hari. Di rumah pun kami berkelana, sebab kami tak kunjung bosan untuk menciptakan kebahagiaan. Everyday dan di mana saja. Namun iya benar, sememenjara-memenjaranya destinasi, pengembaraan adalah wajib. Setidaknya sekali seumur hidup, mari kita lakukan sebuah perjalanan yang gila. 

Kini, ketika saya mengikutkan tulisan ini dalam sebuah Giveaway, saya memilih Kalisat dengan segala kisahnya yang meloncat-loncat. 

Kalisat memang bukan sebaik-baik tempat untuk berwisata. Di sini tidak ada janji keindahan seperti Pantai Papuma Jember. Apa yang tampak foto, seperti itulah adanya. Jangan berharap menjadi turis di tanah Kalisat. Tapi jika sekali saja kita mau meluaskan definisi tentang apa itu wisata, maka negeri kecil semacam Kalisat akan tampak indah lagi berseri-seri. 

Di sini, di tanah Kalisat, pernah ada seorang pejuang kemerdekaan yang tak gentar oleh siksaan penjajah. Mereka menggantungnya dalam keadaan terbalik, kaki diatas dan kepala dibawah. Ia disiksa sedemikian rupa, lalu dijatuhkan beberapa kali dari ketinggian hingga kepalanya pecah.

Jika sekali saja kau mau mencoba bertamasya sejarah di lingkunganmu sendiri, maka suatu hari nanti akan kau dapati gambaran masa lalu kotamu yang aduhai, tak tertahankan indahnya. []