» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Hijau

Menusuk Daun Tembakau di Tengah Lapar dan Anak-anak yang Sakit
14 Oktober 2016 | Hijau | Dibaca 2532 kali
Jika ingin kaya tanamlah tembakau, begitu juga jika kau ingin jatuh miskin seketika. Tembakau bisa membuat para petani naik haji, membangun rumah, membeli mobil dan beberapa alat elektronik sebagai penanda kelas yang tentu saja berbeda dengan yang lainnya. Itu jika harga tembakau sedang bagus, jika merosot apa yang telah dibeli akan sirna untuk menutup hutang.

. ZUHANA AZ

Kebanyakan tetangga di sekitar rumah kami, di Jember,  memanfaatkan musim ini untuk bertanam tembakau. Harapan untuk membayar hutang sebagai modal awal sirna. Banyak petani yang frustasi, harga tembakau kini tak sesuai dengan modal yang dikeluarkan.

Pertengahan September di tahun 2015 lalu, harga tembakau jenis kasturi dibandrol Rp. 800-900 ribu per kwintal. Padahal harga normal sebelumnya Rp.2-2,5 juta per kwintal. Harga bagus antara Rp.3-3,5 juta. Tembakau primadona kelas dunia dari Jember, Na Oogst, juga mengalami nasib yang tak kalah merosot. Ia biasanya berharga Rp.5-6 juta per kwintal, cuma dihargai Rp.500-600 ribu saja per kwintal.

Saat musim panen tiba, ada yang memperlakukan tanaman tembakau tersebut secara khusus. Tapi ada juga yang membiarkannya mati begitu saja di ladang karena merasa sudah cukup rugi.

Para istri dikerahkan untuk membersihkan daun-daun yang sudah dipetik dengan kuas hingga berkali-kali. Di gudang tembakau dekat rumah kami, mereka bekerja mulai dari pukul 15.00 wib sampai dengan pukul 23.00 wib, hanya untuk memastikan bahwa daun-daun tersebut benar-benar bersih dari abu.

Jenis tembakau di Jember merupakan jenis tembakau yang harus melalui proses penjemuran di bawah terik matahari. Berapa pekan ini, jika kalian melintasi daerah pedesaan di wilayah Jember utara pada sisi ruas jalannya terlihat semarak.

Mulai dari pagi hingga malam. Proses penjemuran tembakau dilakukan di pinggir jalan. Ada juga yang memanfaatkan lapangan desa ataupun sekolah. Menjelang malam, lampu penerang dinyalakan.

Ada tenda terpal warna-warni yang menaungi beberapa perempuan, mereka bertugas menusuk-nusuk tembakau dan menatanya sedemikian rupa sebelum dijemur. Menurut Ibu Sus, warga Jatian Pakusar–, setiap 100 tusuk mereka dihargai dengan upah Rp. 2000. Untuk mereka yang lihai kadang dalam sehari bisa menjapai 1.000 sampai 2.000 tusuk.

Emas Hijaunya Menjadi Berwarna Kehitaman

Kabupaten Jember memiliki luas wilayah yang kebanyakan ditanami tembakau di akhir musim penghujan. Sejak Birnie membuka perkebunan tembakau sekitar tahun 1850 di Jember, kota kecil ini menjadi semakin bergeliat. Hal itulah yang membuat daun emas hijau ini menjadi salah satu bagian dalam lambang Kabupaten Jember.

Daun Tembakau, melambangkan bahwa Kabupaten Jember selain dikenal sebagai gudang pangan juga dikenal sebagai daerah penghasil komoditi tembakau yang cukup terkenal dan menghasilkan devisa cukup besar bagi negara disamping komoditi perkebunan lainnya.

Tak hanya kabupaten, Ia juga menjadi bagian dari lambang Universitas Jember. Tiga lembar daun tembakau segar, melambangkan Tri Darma Perguruan Tinggi. Daun tembakau, padi dan jagung melambangkan kesuburan wilayah eks Karesidenan Besuki, sebagai daerah pertanian dan penghasil tembakau ekspor, tempat Universitas Jember tumbuh dan berkembang.

Lantas, apa yang diperbuat pemerintah terhadap keresahan petani tembakau di Jember? Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap nasib mereka ketika merugi? Apakah lembaga sekelas pemerintah tak bisa menenangkan kecemasan mereka? Bagaimana nasib pendidikan dan kesejahteraan para petani dan buruh tembakau di Jember?

Tak ada yang mengubah apapun. Meski  daun yang mereka tanam dijadikan lambang sebuah universitas negeri dan pemerintahan kabupaten Jember. Rugi tetaplah rugi.

Lantas bagaimana hubungan petani tembakau dengan pabrikan. Bagi saya, hubungan petani dan perusahaan seharusnya bisa saling menguntungkan. Petani adalah ujung tombak perusahaan. Tak ada petani yang menanam tembakau, tentu perusahaan akan kelimpungan memenuhi pasokan tembakau yang dibutuhkan.

Selama ini yang saya lihat, hubungan keduanya hanya sebatas niaga saja. Anda jual, saya beli. Cukupkah hanya sekedar itu? Apakah harga yang diberikan perusahaan mampu mencukupi kesejahteraan hidup, pendidikan dan kesehatan mereka? Apakah harus terputus pada masalah niaga saja. Bila merugi bagaimana?

Meskipun pada dasarnya perusahaan yang bermitra dengan petani tentu ada kos tersendiri untuk masalah pupuk dan bibit. Tapi idealnya, para ujung tombak ini dipersenjatai dengan kelayakan yang cukup.

Tidak bisa kan mereka mencangkul dalam keadaan perut lapar, sakit dan anak-anak yang tak sekolah? Ini masih di ranah petani saja. Belum merambah ke buruh tani. []