» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Hijau

Kota yang Kini Mulai (Tak) Dirindukan
19 September 2016 | Hijau | Dibaca 1822 kali
Apa yang terbayang ketika membicarakan kampung halaman, tempat dimana kita dilahirkan dan tali pusar ditanam? Ketika jarak terbentang ratusan kilometer, adakah rindu untuk sekedar pulang dan menghabiskan waktu untuk mengenang memori masa kecil?

 

  • ZUHANA ANIBUDDIN ZUHRO

sripari.com-Saya lahir dan dibesarkan di Tuban hingga lulus SMA. Sejak Agustus 2004 tinggal di Jember untuk melanjutkan perjalanan pendidikan. Sudah 12 tahun saya tinggal di Jember, karena menikah dengan orang Jember.

Tuban, sebuah kabupaten kecil perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa tengah ini mulai jauh dari bayangan. Ada banyak alasan untuk menjadikan Tuban, sebuah kota yang tak lagi dirindukan. Ada banyak alasan untuk menjadikannya sebuah rumah pulang yang menakutkan.

Saya tinggal di sebuah kecamatan pada belahan Tuban selatan bernama Rengel. Satu-satunya yang paling lekat adalah, Ia tempat dimana kedua orang tua tercinta menikmati hidup. Setiap tahun sekali kami mudik ke Tuban bertepatan dengan liburan Idul Fitri. Setiap kali pulang, setiap itu juga saya berusaha untuk berkenalan kembali dengan daerah yang dipenuhi oleh pegunungan karst ini.

Telah banyak perubahan di Tuban. Hampir setiap tahun saya menyadarinya. Tuban memang panas. Bagi saya, Ia memiliki ciri panas yang khas. Perpaduan antara gunung kapur yang gersang dan aroma pesisir. Namun akhir-akhir ini, setiap saya pulang, panas yang dulu saya rasakan khas kini sudah sangat berbeda. Sudah bukan lagi khas, tapi panas yang ditimbulkan karena faktor alam yang rusak.

Kurang lebih 3 kilometer dari rumah, terdapat tambang minyak yang sudah beroperasi semenjak saya kecil. Setiap malam, kami tidak dapat melihat bintang di langit yang hitam. Karena memang langit di daerah kami berwarna merah akibat kobaran api yang ditimbulkan oleh pembakaran di tambang minyak tersebut. Beberapa tanaman buah, jika ditanam di daerah saya seringkali tidak berbuah.

Hanya beberapa jenis saja yang bisa menghasilkan buah. Suatu saat, Ibu saya berkunjung ke Jember melihat dengan heran buah rambutan yang berbuah lebat sampai hampir mematahkan dahan-dahannya. Itu dikarenakan di Tuban, jarang kami lihat pohon rambutan berbuah. Meski bisa tumbuh menjadi pohon yang besar, namun tidak pernah berbuah sama sekali.

Jika musim kemarau tiba, kekeringan terjadi dimana-mana. Air menjadi barang yang teramat mahal. Orang-orang rela antri membawa jurigen kosong di sumber-sumber air. Truk-truk laris mengangkut puluhan hingga ratusan jurigen. Sebuah bisnis yang menguntungkan bagi mereka yang tega memanfaatkannya.

Dari dulu memang seperti itu. Namun beberapa terakhir ini semakin parah. Musim kemarau ditandai dengan bak-bak kamar mandi di rumah kami yang kosong. Untuk memasak dan minum, Ibu memanfaatkan jasa isi ulang air pada tetangga terdekat. Berbanding terbalik jika musim hujan tiba.

Orang-orang menyebutnya mongso rendeng. Bajir menggenangi wilayah-wilayah hilir. Banjir bandang hampir terjadi setiap tahun di musim hujan. Pegunungan dan bukit-bukit yang gersang tak mampu lagi menahan air sehingga mengalir jauh membanjiri pemukiman dan desa-desa yang ada di wilayah hilir.

Bengawan solo meluap, merusak puluhan hektar sawah dan lahan pertanian milik masyarakat. Itu hampir terjadi setiap tahun dan terkesan ritual rutin yang dianggap biasa tanpa ada penanganan yang jelas.

Di belakang rumah saya, terbentang pegunungan karst yang membujur panjang hingga ke Kecamatan Merakurak. Sejak kecil, sudah banyak pertambangan liar di sana. Orang-orang menambang untuk kebutuhan mengisi perutnya. Batu kapur digergaji hingga menyerupai potongan balok.

Ini umumnya digunakan sebagai bahan bangunan yang fungsinya seperti batu bata merah. Masyarakat di Tuban menyebutnya Kumbung. Namun sekarang bertambah, ada gudang bahan peledak yang juga ditempatkan di sana. Tak jauh dari pemukiman warga. Sementara itu, berjarak 500 meter dari bekas kediaman nenek saya, pipa-pipa pertambangan gas masuk dan tertanam di sawah-sawah milik penduduk. Sementara pemiliknya tidak punya koasa untuk melawan.

Perubahan itu penting dalam sebuah masa, namun menjadi virus jika itu sifatnya merusak tatanan ekosistem dan kebudayaan masyarakat yang ada. Ada banyak alasan untuk menjadikan Tuban, sebuah kota yang tak lagi dirindukan. Ada banyak alasan untuk menjadikannya sebuah rumah pulang yang menakutkan.

Namun rindu akan terpelihara di sana jika masyarakat dan orang-orang yang ada di dalamnya mampu mempertahankan diri dari segala keterancaman rusaknya lingkungan. []