» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Budaya

Penglipuran: Desa Tradisional Melawan Arus Zaman yang Berlari Kencang.
17 Maret 2018 | Budaya | Dibaca 1974 kali
TRADISIONAL: Wajah Desa Penglipuran,Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, Kamis (08/03/2018) siang. Foto: PETAPORTAL/FAISAL NUR RACHMAN
Awalnya, desa ini hanyalah sebuah desa yang ingin mempertahankan kebudayaan nenek moyang dan para leluhur. Desa ini berjarak 45 kilo meter dari Denpasar.

BANGLI | SRIPARI.COM-Begitu menginjakkan kaki di desa adat yang berada di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli ini, mata langsung disuguhi tata letak bangunannya yang tertata dengan rapi dan simetris.

Antara satu bangunan dengan bangunan yang lainnya memiliki arsitektur yang nyaris sama persis dari ujung desa ke ujung lainnya.

Pintu gerbang rumah atau disebut Angkul-angkul saling berhadapan satu sama lain dibelah jalan utama kecil di tengahnya. Jalan utama  desa terbersih nomor tiga versi badan Unesco PBB ini  mengarah pada bagian utama desa yang berada di puncak paling tinggi.

Tak salah jika saat ini, desa adat kental dengan kerukunan dan kebersamaan tersebut menjadi destinasi yang kemudian melengkapi wisata Pulau Bali yang sebelumnya hanya monoton pada pantai serta keindahan alam lainnya.

Rasanya tak cukup waktu seharian untuk menguras kisah di sebalik kehidupan masyarakatnya yang telah hidup berdampingan dengan memegang teguh adat dan budaya, yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi di tengah arus zaman yang berlari kencang.

"Di sini masyarakatnya harus dilibatkan untuk membuat Desa Penglipuran bisa tetap memperlihatkan ciri khas Bali mulai dari keagamaan, budayanya, kesenian dan kebersihan lingkungan," ungkap pengurus Desa Adat Penglipuran, Wayan Oke Purnawan, yang diulik dari laman petaportal, Kamis (08/03/2018) siang

Menurut dia, masyarakat yang tinggal di Desa Penglipuran sangat terbuka dengan semua tamu yang datang. Untuk itu, Wayan menyarankan ketika datang ke Penglipuran jangan cuma sekedar jalan-jalan melihat landscape-nya.

Namun, Wayan mempersilahkan mengunjungi rumah warga untuk mengetahui secara langsung geliat kehidupan di dalamnya.

Saat pewarta petaportal masuk ke salah satu pemukiman di Desa Penglipuran, tampak jelas semangat mereka menjaga kebersihan rumah dan tempat peribadatan. Tak sekadar memperoleh kepuasan secara lahiriah, tapi mendapat ilmu dan informasi  yang bisa diterapkan di lingkungannya masing-masing.

"Kunjungi langsung rumahnya, mereka akan menerangkan bagaimana merawat dengan baik lingkungan yang bersih," tegas Wayan.

Sebagai informasi, di awal peresmiannya sebagai desa wisata berdasar SK Bupati Bangli Nomor 115 tanggal 29 April 1993, dua tahun kemudian Penglipuran mendapatkan penghargaan Kalpataru pada tahun 1995.

Sebab, masyarakat setempat dianggap mampu menyelamatkan lingkungan. Mereka mampu mempertahankan dan memelihara 75 hektar hutan bambu dan 10 hektar vegetasi lainnya yang menjadi ciri khas desanya. Selain itu, masyarakat di desa ini juga mampu mempertahankan adat budaya para leluhur dan juga tata kota serta bangunan tradisionalnya.

Desa Penglipuran berasal dari akronim kata pengeling dan pura yang berarti mengingat tempat suci (para leluhur). Semula, masyarakat desa ini berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani, yang bermigrasi permanen  ke Desa Kubu Bayung, yang kini menjadi Desa Penglipuran. Di desa inilah mereka akhirnya menetap dan menjaga kearifan kebudayaan mereka.

Penglipuran tampaknya berbeda dengan desa wisata lainnya. Di sini, tersuguh  keindahan pedesaan yang sangat jauh dari arus lalu lintas peradaban modern di kota-kota di Pulau Bali. []

WARIGALIT DE BRO