» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Budaya

Obsesi Patenkan Kirab Ogoh-ogoh dan Tawur Kesanga sebagai Ikon Budaya
17 Maret 2018 | Budaya | Dibaca 923 kali
IKON BARU: Ribuan umat Hindu di Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim), menggelar ritual Tawur Agung Kesanga untuk menyambut Hari Raya Nyepi 1940 Saka, Jumat (16/03/2018). Foto: PETAPORTAL/ALIVIA
Tak kurang dari 64 Ogoh-ogoh sebagai visualisasi tokoh-tokoh jahat yang harus dimusnahkan, diarak di tengah ribuan umat Hindu di jalanan Kecamatan Wlingi sekaligus tempat berlangsungnya ritual Tawur Kesanga, Jumat (15/03/2018).

BLITAR | SRIPARI.COM-Bupati Blitar Rijanto yang menyaksikan ritual tahunan jelang perayaan Hari Raya Nyepi 1940 Saka yang jatuh Sabtu (17/03/2018) hari ini, mengatakan gelaran ritual umat Hindu ini sebagai bukti nyata bahwa Indonesia memiliki ragam kebudayaan dan agama sehingga harus saling menghormati. Rijanto juga berharap acara tahunan ini bisa menjadi ikon maupun festival yang dapat menarik wisatawan.

"Semoga ini bisa jadi penarik wisata juga. Ke depan kita harapkan menjadi wisata budaya yang nanti punya multiple effect kepada kehidupan masyarakat, khususnya pawai Ogoh-ogoh ini," tegas dia di antara ribuan umat Hindu di Blitar yang menggelar ritual penyucian alam semesta Tawur Kesanga disertai dengan pawai Ogoh-ogoh ini.

Sebelumnya, umat Hindu juga telah melaksanakan upacara Melasti atau penyucian dewa-dewa di Pantai Jolosutro Kecamatan Wates pada Sabtu (10/03/2018) pekan lalu.

"Upacara Tawur Kesanga dan pawai Ogoh-ogoh ini tujuannya agar umat Hindu dapat mengenal dan memahami ajaran Tri Hita Karana atau hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Blitar, Lestari di sela kirab Ogoh-ogoh.

Dijelaskan, Tawur Kesanga merupakan bagian yang menghubungkan antara manusia dan alam. Keberadaan Huta Kala atau raksasa merupakan perwujudan sifat negatif atau jahat yang ada di dalam diri manusia. Sehingga Tawur Kesanga diharapkan dapat menghilangkan pengaruh jahat manusia itu sendiri.

"Kehadiran Huta Kala sebagai sifat roh jahat justru akan mengharmoniskan manusia dengan alam melalui rangkaian upacara Tawur Kesanga dan dibawa ke desa masing-masing untuk diarak lagi baru kemudian disonyakan atau dibakar. Harapannya agar umat Hindu yang menjalankan Tapa Brata 24 jam pada perayaan Hari Raya Nyepi dapat terhindar dari sifat dan pikiran negatif atau jahat," beber Lestari . []

ALIVIA