» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Bojonegoro Barometer

Beda Nasib Petani dan Penjual Bunga di Tengah Nuansa Pra Ramadhan
26 Mei 2017 | Bojonegoro Barometer | Dibaca 1909 kali
MENANTI PEMBELI: Para penjual kembang menggelar dagangannya di depan Pasar Besar Kota Bojonegoro, Jumat (26/05/2017) siang. Foto: SRIPRI.COM/MZAINUDDIN
Bunga mendadak menjadi piranti penting jelang ramadhan tiba. Momen budaya membersihkan makam leluhur yang dilakukan masyarakat mulai sepekan jelang bulan puasa membuat bunga menjadi barang wajib dan istimewa. Imbasnya, para penjual bunga panen untung. Tapi, bagaimana kabar tentang petani bunga sendiri?

SRIPARI.COM | BOJONEGORO-Situasi melonjaknya harga bunga tabur makam diperoleh penjual kembang tiban (dadakan) yang menggelar dagangannya di seputaran pekuburan maupun pasar tradisional, ternyata tak menular kepada para petani bunga selaku sumber komoditas. Ada tiga jenis bunga yang menjadi ronce kembang tabur makam yakni kenanga, mawar serta bunga gading. Dari rangkaian bunga ini mawar paling tinggi harganya.

Hasil telisik pewarta sripari.com sepanjang sepekan terakhir pada sejumlah sentra bunga di Tuban dan Bojonegoro, harga di tingkat petani terus mengalami penurunan. Rabu (24/05/2017) untuk harga kenanga mencapai Rp 80 ribu per kilo isi 250 biji. Sedangkan mawar Rp 300 ribu per kilo isi 100 biji dan kembang gading Rp 25 ribu per kilo. Namun hanya berselang hari atau Kamis (25/05/2017) harga kembang kenanga melorot menjadi Rp 50 ribu per kilo. Harga dua kembang penyerta lainnya juga bernasib sama.

"Tapi kalau di tingkat pedagang harganya tetap stabil (mahal). Kami selaku petani hanya bisa pasrah. Mau bagaimana lagi," ungkap beberapa petani bunga di Desa Nguruhan, Klumpit dan Desa Gunung Anyar Kabupaten Tuban, ditemui terpisah.  

Sedangkan para tengkulak yang memasok dagangannya kepada penjual eceran bunga makam tabur tiban, mengklaim
keuntungan yang diperoleh tak sebesar yang dibayangkan. Mereka lantas merinci ongkos petik berikut biaya transportasi agar bunga yang diunduh dari berbagai tempat berjauhan sampai ke tangan para bakul tepat waktu.

"Jualan bunga itu tidak bisa disama ratakan dengan komoditas lain. Kami ini ibaratnya berjudi dengan waktu. Meleset sedikit saja bunga bisa layu dan tidak laku," tutur sejumlah pemasok bunga tabur makam di Pasar Besar Kota Bojonegoro, Jumat (26/05/2017) siang.

Menurut mereka, satu jam dua jam harga bisa berubah. Tergantung konsumen dan pasokan barang. Logika sederhananya jika permintaan lagi tinggi akan naik drastis. Begitu juga jika pasokan bunga sedang mendit (langka) otomatis harga bisa melangit. Terutama pada momen jelang puasa seperti sekarang ini.

Winarto, salah satu penjual bunga di kawasan pemakaman Jantur, Kecamatan Bojonegoro, mengaku menawarkan barang dagangannya dengan sistem paketan. Untuk satu paket berisi lima biji bunga kenanga, satu tangkai mawar dan sebiji gading dijual Rp 10 ribu. []

M ZAINUDDIN