» Website: https://www.sripari.com » Email: redaksi.sripari@gmail.com » Alamat: Redaksi Tuban: Jalan Raya Logawe nomor 359 Rengel 62371, CP/WA: 082231041229. Redaksi Surabaya: Jalan Kebonsari Raya nomor 26,CP/WA: 082333695757. » Telepon: .

■ Budaya

Kesunyian Kentrung Bate Tuban: Getir Romantika Perawan Sarahwulan

26 September 2016 | Budaya | Dibaca 2169 kali

Nyi Wandansili berdiri angkuh dengan kemurkaannya.Tubuhnya ringkih membelakangi Sarahwulan yang bersimpuh meminta belas kasihan.

  • Teguh Budi Utomo

Dan perawan desa Sarahwulan tetap nekad menepati janji. Ia pergi meninggalkan rumah yang ditinggalinya bersama Nyi Wandansili.

“Ampun Mbok ijinkan kawulo pergi,” kata sang gadis berlinang airmata. Segenggam pakaian dibungkus jarik kawung teronggok di samping kanannya.

“Mau jadi apa kamu tak nurut orangtua, bocah wadon kudu punya harga diri,” hardik Nyi Wandansili kepada anaknya.

Kepergian sang gadis mencari kekasihnya Juwarsah, bagi Nyi Wandansili tak ubahnya cidro. Malu keluarga harus ditanggung Nyi Wandansili jika sang anak meninggalkan rumah. Meski jerit tangis anaknya membelah langit, kian membuat sang janda bergeming.

Demikian sepenggal kisah drama lisan percintaan Sarahwulan dalam pertunjukan Kentrung Bate asal Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, yang dihelat Kamis Legi malam Jumat Kliwon beberapa tahun ke belakang sebelum Mbah Rati, dalang Kenrung Bate, tutup usia. Pertunjukan seni tradisi sarat makna religi yang nyaris punah di Bumi Ronggolawe, Tuban.

Tak berbeda dengan drama percintaan klasik lainnya, semacam Romeo - Yuliet karya Sastrawan Inggris William Shakespeare atau Rojali-Juleha dari tanah Betawi, Sarahwulan yang diwedar dalang Kentrung Bate, Surati (90), juga sarat pergulatan batin. Di sana bertarung antara harga diri dengan cidro keluarga yang musti dijunjung tinggi. Sekalipun cidro seorang janda Nyi Wandansili.

Kisah klasik Sarahwulan–Juwarsah, menjadi bagian terpenting anak-anak desa di pelosok Tuban. Drama lisan percintaan itu pula yang menjadi pengantar tidur anak-anak di sana. Sekalipun sebatas legenda turun temurun yang kemudian dilansir dalam epilog perhelatan Kentrung Bate.Seni tradisi yang nyaris punah dikikis zaman.

 

* * *     

Seni tradisi Kentrung Bate, menurut dalang kentrung Surati, merupakan seni pertunjukan yang lahir untuk memagari kultur warga desa dari serangan budaya asing. Olah seni pertunjukan kuno ini, memiliki beragam makna dan bisa dipakai untuk syiar kebajikan.

Kendati media siar yang diwartakan sebatas syair tembang yang dikemas dalam seni pertunjukan.Namun kolaburasi dengan perangkat gamelan sebagai pengiring tembang, mampu membuahkan karya seni apik.

Piranti musiknya tua, setua pelakunya.Di samping Mbah Surati sebagai dalang, ada Mbah Setri (86) penabuh timlung (kentheng) dan Mbah Samijo (88) sebagai penabuh terbang besar (rebana). Setua pula Kentrung Bate, yang mengambil  nama Desa Bate sebagai label komunitasnya seninya. 

Pelaku seni tradisi asal Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Tuban ini, hingga kinipun masih bertahan.Mereka meyakini berolah rasa melalui seni kentrung, mampu melahirkan ketentraman batiniah penggemarnya.Sekalipun sebatas kalangan orangtua dari sudut-sudut desa di pelosok Tuban.

Dalam setiap perhelatannya, Kentrung Bate selalu menghadap ke timur. Sama halnya sang surya yang selalu memulai menyinari mayapada dari timur. Awal kehidupan pun berawal dari arah mata angin itu.

“Miline banyu iku soko wetan (Mengalirnya air itu dari arah timur),” ungkap Mbah Surati dalang kentrung tua yang kesulitan mencari penerus.Pelaku seni tradisi langka yang tuna netra ini meyakini, perhelatan seni apapun—termasuk Kentrung Bate—musti menghadap ke arah timur.

“Sedulur tua kita, juga bertempat di timur,” sergah Mbah Wiji (91), suami keenam Mbah Surati asal Desa Wonosari, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, saat ditemui penulis di sela-sela pertunjukan di pelataran rumahnya.

Secara kosmos maupun punjer, helat kentrung di tengah arena pertunjukan, namun penyatuan saudara dari empat penjuru arah angin tetap harus diuri-uri. Penyatuan saudara dari empat penjuru mata angin, selalu dilakukan sang dalang kentrung. Oleh karena itu doa pelebur sukma, selalu dirapal dalang dalam pertunjukan kentrung.

Lihat saja syair dari Gending Kawitan dari perhelatan Kentrung Bate.Gending pembuka ini, menjadi pakem tak terpisahkan dari helat berkesenian tradisi. Seni Kentrung Bate; 

Gending alit munggwing driji, Ojo lali yen momong raga, Ya Lailla Hailallah Ya Muhammad Rasulallah, Lamun supe wiwitane, Kaya ngapa mring gesange, Ya Lailla Hailallah Ya Muhammad Rasulallah

Gending kawitan, ungkap Mbah Surati, demikian penting karena berhasil tidaknya perhelatan kentrung dipengaruhi gending ini. Ada nuansa magis sebagai simbul berhasilnya doa melalui gending ini. Meski sebatas dirasakan pelaku kentrung.

Sama ketika helat berlangsung di pelataran rumah Mbah Surati.Rumah berlantai tanah dengan dinding separo gedhek (anyaman bambu) dan papan.Ratusan pengunjung arena pertunjukan menghadap lahan jagung yang meranggas kekurangan pupuk, terdiam menyimak bait demi bait mantra pelebur sukma.

Angin malam pun berhenti menelikung celah dedaunan jati di sisi kiri rumah.Senyap tak bertepi mengiringi malam yang diterangi secuil bulan, ketika Mbah Surati merapal mantera.Mantera yang dikemas dalam syair gending kawitan.

 

 * * * *

Dan perawan desa Sarahwulan tetap nekad menepati janji.Ia pergi meninggalkan rumah yang ditinggalinya bersama Nyi Wandansili. Rumah di satu perdikan yang di belakangnya terdapat ladang mentimun.Area persawahan tempat Sarahwulan bertemu Juwarsah, kekasihnya.Dia tinggalkan demi membayar janji kepada lelaki pujaan.Janji bagi seorang Sarahwulan, ibarat hutang yang musti dilunasi.

Pada konteks ini Nyi Wandansili menyadari sikap yang musti dilakukan anaknya. Namun demikian, perempuan tua yang menjanda dalam kisah klasik ini, masih tetap berupaya agar sang anak bertahan. Dicaci makinya sang anak, agar tetap bergeming di rumah.

Tetabuhan monoton dari tiga perangkat gamelan kentrung dihentak sang dalang Surati. Dalam kepedihan tak bertepi, Sarahwulan meninggalkan ibundanya. Pitutur Nyi Wandansili melalui gending Nagih Utang pun, tak mampu menghentikan langkah Sarahwulan ke luar rumah sambil menenteng bangkelan jarik isi dua stel pakaian. Pakaian yang saban hari melekat di tubuhnya yang gemulai.

Di tengah batin sarat kepiluan, Nyi Wandansili pun merapal gending Nagih Utang;

Dudu tangis mono wonge kelaran, Dudu tangis iki wonge kepaten, Tetangise mono wong nduwe utang, Ora utang mono wong padha dama, Ya Lailaha Hailallah, Orang utang karo wong cina landa, Ora duwe utang mas picis raja brana,Nduwe utang mana karo wong tuwa, Ndek nalika wong rupa toya Ya Laila Hailallah

Nang ditagih utang karo wong tuwa, Ya nang apa mbok nggo nyaurana, Mbok rewangi wong adol rambut, Panyaurmu durung bisa cukup, Nek dilorohi wong tuwa prengat prengut, Ya Laila Hailallah

Gending pamungkas itu diharap mampu menyadarkan anaknya yang tengah dimabuk asmara. Di samping janji dengan kekasih, ada janji lain yang ditagih seorang ibu. Perempuan renta yang melahirkannya.

“Tangisan Nyi Wandansili dalam gending Nagih Utang, sekadar mengingatkan anaknya agar ia taat kepada orangtua,” ungkap Mbah Surati, usai pertunjukan.

Nyi Wandansili pun tetap berharap, agar Sarahwulan bisa mengambil sikap mikul dhuwur mendhem jero kepada perempuan yang melahirkannya.Gending itu juga mengingatkan, sejak lahir bercampur air suci hingga dewasa dalam kasih sayang.Dan wajar pula ketika sang janda menagih janji kepada anaknya. Janji agar sang anak ingat ajaran fastabiqul khoirot, berbakti kepada orangtua. Mikul dhuwur mendhem jero terhadap seorang ibu.

Pengorbanan Sarahwulan meninggalkan ibunya, diibaratkan seorang anak yang tidak mungkin bisa membalas kebaikan.Sekalipun rambutnya dipotong dan dijual, namun masih tak cukup untuk menutup utang kepada perempuan yang mengandungnya sembilan bulan 10 hari.

Ada yang berbeda dengan drama klasik pada umumnya. Kisah Sarahwulan, bukan berakhir dengan pertumpahan darah. Keduanya tidak menemui ajal sebagaimana karya sastrawan Shakespeare dalam Romeo–Yuliet, atau drama percintaan Rama – Sinta dalam pakeliran Ramayana.Kisah Sarahwulan ditutup happy ending. Meski dengan pergulatan batin yang kuat dan cucuran air mata, pasangan yang dimabuk asmara ini pada akhirnya bertemu.

Yang bisa dipetik dari Sarahwulan dalam helat Kentrung Bate, adalah makna pengabdian terhadap orangtua.Pesan moral dalam rangkaian perjalanan hidup Sarahwulan yang mengembara mencari Juwarsah, selalu memunculkan apresiasi seni tradisi.Setidaknya kisah-kisah semacam Sarahwulan masih lekat menjadi bagian terpenting kultural warga di pedesaan Tuban.Mungkin demikian. []

 

Teguh Budi Utomo : Jurnalis dan pegiat budaya serta penulis sasrta ritual tinggal di Tuban. Mengenal budaya dan sasstra Tuban sedekat dirinya sendiri.